Senin, 18 April 2016

Ragam dan Fungsi Bahasa

TUGAS SOFTSKILL
BAHASA INDONESIA
“RAGAM DAN FUNGSI BAHASA”


















Disusun oleh        :
Nama                   : Muhammad Fauzi Islami
NPM                    : 24115593
Kelas                     : 1KB04



FAKULTAS ILMU KOMPUTER DAN TEKNOLOGI INFORMASI
UNIVERSITAS GUNADARMA
ATA 2015/2016



RAGAM BAHASA

A. Pengertian Ragam Bahasa

Ragam Bahasa adalah variasi bahasa menurut pemakaian, yang berbeda-beda menurut topik yang dibicarakan, menurut hubungan pembicara, kawan bicara, orang yang dibicarakan, serta menurut medium pembicara. Ragam bahasa yang oleh penuturnya dianggap sebagai ragam yang baik , yang biasa digunakan di kalangan terdidik, di dalam karya ilmiah (karangan teknis, perundang-undangan), di dalam suasana resmi, atau di dalam surat menyurat resmi (seperti surat dinas) disebut ragam bahasa baku atau ragam bahasa resmi.
Menurut Dendy Sugono, bahwa sehubungan dengan pemakaian bahasa Indonesia, timbul dua masalah pokok, yaitu masalah penggunaan bahasa baku dan tak baku. Dalam situasi resmi, seperti di sekolah, di kantor, atau di dalam pertemuan resmi digunakan bahasa baku. Sebaliknya dalam situasi tak resmi, seperti di rumah, di taman, di pasar, kita tidak dituntut menggunakan bahasa baku. 

B.  Macam – Macam Ragam Bahasa
1.    Ragam Bahasa Indonesia Berdasarkan Media
Di dalam bahasa Indonesia disamping dikenal kosa kata baku, bahasa Indonesia dikenal pula kosa kata bahasa Indonesia ragam baku, yang sering disebut sebagai kosa kata baku bahasa Indonesia baku. Kosa kata baku bahasa Indonesia, memiliki ciri kaidah bahasa Indonesia ragam baku, yang dijadikan tolak ukur yang ditetapkan berdasarkan kesepakatan penutur bahasa Indonesia, bukan otoritas lembaga atau instansi didalam menggunakan bahasa Indonesia ragam baku. Jadi, kosa kata itu digunakan di dalam ragam baku bukan ragam santai atau ragam akrab. Walaupun demikian, tidak menutup kemungkinan digunakannya kosa kata ragam baku di dalam pemakian ragam-ragam yang lain asal tidak mengganggu makna dan rasa bahasa ragam yang bersangkutan.
Suatu ragam bahasa, terutama ragam bahasa jurnalistik dan hukum, tidak menutup kemungkinan untuk menggunakan bentuk kosa kata ragam bahasa baku agar dapat menjadi panutan bagi masyarakat pengguna bahasa Indonesia. Perlu diperhatikan ialah kaidah tentang norma yang berlaku yang berkaitan dengan latar belakang pembicaraan (situasi pembicaraan), pelaku bicara, dan topik pembicaraan. Ragam bahasa Indonesia berdasarkan media dibagi menjadi dua yaitu :
          a) Ragam Bahasa Lisan
Ragam bahasa lisan dalah ragam bahasa yang diungkapkan melalui media lisan, terkait oleh ruang dan waktu sehingga situasi pengungkapan dapat membantu pemahaman. Ragam bahasa baku lisan didukung oleh situasi pemakaian. Namun, hal itu tidak mengurangi ciri kebakuannya. Walaupun demikian, ketepatan dalam pilihan kata dan bentuk kata serta kelengkapan unsur-unsur  di dalam kelengkapan unsur-unsur di dalam struktur kalimat tidak menjadi ciri kebakuan dalam ragam baku lisan karena situasi dan kondisi pembicaraan menjadi pendukung di dalam memahami makna gagasan yang disampaikan secara lisan. Pembicaraan lisan dalam situasi formal berbeda tuntutan kaidah kebakuannya dengan pembicaraan lisan dalam situasi tidak formal atau santai. Jika ragam bahasa lisan dituliskan, ragam bahasa itu tidak dapat disebut sebagai ragam tulis, tetapi tetap disebut sebagai ragam lisan, hanya saja diwujudkan dalam bentuk tulis. Oleh karena itu, bahasa yang dilihat dari ciri-cirinya tidak menunjukkan ciri-ciri ragam tulis, walaupun direalisasikan dalam bentuk tulis, ragam bahasa serupa itu tidak dapat dikatakan sebagai ragam tulis. Berikut adalah ciri-ciri ragam lisan :
1.      Memerlukan orang kedua atau teman bicara;
2.      Tergantung situasi, kondisi, ruang & waktu;
3.      Hanya perlu intonasi serta bahasa tubuh.
4.      Berlangsung cepat;
5.      Sering dapat berlangsung tanpa alat bantu;
6.      Kesalahan dapat langsung dikoreksi;
7.      Dapat dibantu dengan gerak tubuh dan mimik wajah serta intonasi.
   
Yang termasuk dalam ragam lisan diantaranya pidato, ceramah, sambutan, berbincang-bincang, dan masih banyak lagi. Semua itu sering digunakan kebanyakan orang dalam kehidupan sehari-hari, terutama ngobrol atau berbincang-bincang, karena tidak diikat oleh aturan-aturan atau cara penyampaian seperti halnya pidato ataupun ceramah.
     b) Ragam Bahasa Tulis
Ragam bahasa tulis adalah bahasa yang dihasilkan dengan memanfaatkan tulisan dengan huruf sebagai unsur dasarnya. Dalam ragam tulis, kita berurusan dengan tata cara penulisan (ejaan) di samping aspek tata bahasa dan kosa kata. Dengan kata lain dalam ragam bahasa tulis, kita dituntut adanya kelengkapan unsur tata bahasa seperti bentuk kata ataupun susunan kalimat, ketepatan pilihan kata, kebenaran penggunaan ejaan, dan penggunaan tanda baca dalam mengungkapkan ide.
Contoh dari ragam bahasa tulis adalah surat, karya ilmiah, surat kabar, dll. Dalam ragam bahasa tulis perlu memperhatikan ejaan bahasa indonesia yang baik dan benar. Terutama dalam pembuatan karya-karya ilmiah. Berikut adalah ciri-ciri ragam bahasa tulis :
1.      Tidak memerlukan kehadiran orang lain;
2.      Tidak terikat ruang dan waktu;
3.      Kosa kata yang digunakan dipilih secara cermat;
4.      Pembentukan kata dilakukan secara sempurna;
5.      Kalimat dibentuk dengan struktur yang lengkap;
6.      Paragraf dikembangkan secara lengkap dan padu;
7.      Berlangsung lambat;
8.      Memerlukan alat bantu.


2.      Ragam Bahasa Berdasarkan Penutur
a)      Ragam Bahasa Berdasarkan Daerah (logat/dialek)
Luasnya pemakaian bahasa dapat menimbulkan perbedaan pemakaian bahasa. Bahasa Indonesia yang digunakan oleh orang yang tinggal di Jakarta berbeda dengan bahasa Indonesia yang digunakan di Jawa Tengah, Bali, Jayapura, dan Tapanuli. Masing-masing memiliki ciri khas yang berbeda-beda. Misalnya logat bahasa Indonesia orang Jawa Tengah tampak pada pelafalan “b” pada posisi awal saat melafalkan nama-nama kota seperti Bogor, Bandung, Banyuwangi, dan lain-lain. Logat bahasa Indonesia orang Bali tampak pada pelafalan “t” seperti pada kata ithu, kitha, canthik, dll.
b)     Ragam Bahasa Berdasarkan Pendidikan Penutur
Bahasa Indonesia yang digunakan oleh kelompok penutur yang berpendidikan berbeda dengan yang tidak berpendidikan, terutama dalam pelafalan kata yang berasal dari bahasa asing, misalnya kompleks,vitamin, video, film. Penutur yang tidak berpendidikan mungkin akan mengucapkan komplek, pitamin, pidio, pilem. Perbedaan ini juga terjadi dalam bidang tata bahasa, misalnya ngebawa seharusnya membawa, nyari seharusnya mencari. Selain itu bentuk kata dalam kalimat pun sering menanggalkan awalan yang seharusnya dipakai.
c)      Ragam Bahasa Berdasarkan Sikap Penutur
Ragam bahasa dipengaruhi juga oleh setiap penutur terhadap kawan bicara (jika lisan) atau sikap penulis terhadap pembaca (jika dituliskan) sikap itu antara lain resmi, akrab, dan santai. Kedudukan kawan bicara atau pembaca terhadap penutur atau penulis juga mempengaruhi sikap tersebut. Misalnya, kita dapat mengamati bahasa seorang bawahan atau petugas ketika melapor kepada atasannya. Jika terdapat jarak antara penutur dan kawan bicara atau penulis dan pembaca, akan digunakan ragam bahasa resmi atau bahasa baku. Makin formal jarak penutur dan kawan bicara akan makin resmi dan makin tinggi tingkat kebakuan bahasa yang digunakan. Sebaliknya, makin rendah tingkat keformalannya, makin rendah pula tingkat kebakuan bahasa yang digunakan.

Berikut adalah pemakaian bahasa baku, antara lain:
1.      Pembicaraan di muka umum, misalnya pidato kenegaraan, seminar, rapat dinas memberikan kuliah/pelajaran.
2.      Pembicaraan dengan orang yang dihormati, misalnya dengan atasan, dengan guru/dosen, dan dengan pejabat.
3.      Komunikasi resmi, misalnya surat dinas, surat lamaran pekerjaan, dan undang-undang.
4.      Wacana teknis, misalnya laporan penelitian, makalah, tesis, dan disertasi.

3.      Ragam Bahasa Menurut Pokok Pesoalan atau Bidang Pemakaian
Dalam kehidupan sehari-hari banyak pokok persoalan yang dibicarakan. Dalam membicarakan pokok persoalan yang berbeda-beda ini kita pun menggunakan ragam bahasa yang berbeda. Ragam bahasa yang digunakan dalam lingkungan agama berbeda dengan bahasa yang digunakan dalam lingkungan kedokteran, hukum, dan pers. Bahasa yang digunakan dalam lingkungan politik, berbeda dengan bahasa yang digunakan dalam lingkungan ekonomi atau perdagangan, olah raga, seni, atau teknologi. Ragam bahasa yang digunakan menurut pokok persoalan atau bidang pemakaian ini dikenal pula dengan istilah laras bahasa.
Perbedaan itu tampak dalam pilihan atau penggunaan sejumlah kata/peristilahan/ungkapan yang khusus digunakan dalam bidang tersebut, misalnya masjid, gereja, vihara adalah kata-kata yang digunakan dalam bidang agama. Koroner, hipertensi, anemia, digunakan dalam bidang kedokteran. Improvisasi, maestro, kontemporer banyak digunakan dalam lingkungan seni. Kalimat yang digunakan pun berbeda sesuai dengan pokok persoalan yang dikemukakan. Kalimat dalam undang-undang berbeda dengan kalimat-kalimat dalam sastra, kalimat-kalimat dalam karya ilmiah, kalimat-kalimat dalam koran atau majalah dan lain-lain.


FUNGSI BAHASA

1.     Bahasa Sebagai Sarana Komunikasi
Bahasa Indonesia berfungsi sebagai alat komunikasi antara anggota masyarakat. Fungsi tersebut digunakan dalam berbagai lingkungan, tingkatan, dan kepentingan yang beraneka ragam. Misalnya : komunikasi ilmiah, komunikasi bisnis, komunikasi kerja, dan komunikasi sosial, dan komunikasi budaya.
2.     Bahasa Sebagai Sarana Integrasi dan Adaptasi
Dengan bahasa orang dapat menyatakan hidup bersama dalam suatu ikatan. Misalnya : integritas kerja dalam sebuah institusi, integritas karyawan dalam sebuah departemen, integritas keluarga, integritas kerja sama dalam bidang bisnis, integritas berbangsa dan bernegara.
3.     Bahasa Sebagai Sarana Kontrol Sosial
Bahasa sebagai kontrol sosial berfungsi untuk mengendalikan komunikasi agar orang yang terlibat dalam komunikasi dapat saling memahami. Masing – masing mengamati ucapan, perilaku, dan simbol – simbol lain yang menunjukan arah komunikasi. Bahasa kontrol ini dapat diwujudkan dalam bentuk : aturan, anggaran dasar, undang – undang dan lain – lain.
4.     Bahasa Sebagai Sarana Memahami Diri
Dalam membangun karakter seseorang harus dapat memahami dan mengidentifikasi kondisi dirinya terlebih dahulu. Ia harus dapat menyebutkan potensi dirinya, kelemahan dirinya, kekuatan dirinya, bakat, kecerdasan, kemampuan intelektualnya, kemauannya, tempramennya, dan sebagainya. Pemahaman ini mencakup kemampuan fisik, emosi, inteligensi, kecerdasan, psikis, karakternya, psikososial, dan lain – lain. Dari pemahaman yang cermat atas dirinya, seseorang akan mampu membangun karakternya dan mengorbitkannya ke arah pengembangan potensi dan kemampuannya menciptakan suatu kreativitas baru.

5.     Bahasa Sebagai Sarana Ekspresi Diri
Bahasa sebagai ekspresi diri dapat dilakukan dari tingkat yang paling sederhana sampai yang paling kompleks atau tingkat kesulitan yang sangat tinggi. Ekspresi sederhana, misalnya, untuk menyatakan cinta (saya akan senatiasa setia, bangga dan perhatian kepadamu), lapar (sudah saatnya kita makan siang).
6.     Bahasa Sebagai Sarana Memahami Orang Lain
Untuk menjamin efektifitas komunikasi, seseorang perlu memahami orang lain, seperti dalam memahami dirinya. Dengan pemahaman terhadap seseorang, pemakaian bahasa dapat mengenali berbagai hal mencakup kondisi pribadinya: intelektual, emosional, kecerdasan, karakter, paradigma, yang melandasi pemikirannya, tipologi dasar tempramennya (sanguinis, melankolis, kholeris, flagmatis), bakatnya, kemampuan kreativitasnya, kemampuan inovasinya, motivasi pengembangan dirinya, dan lain – lain.
7.     Bahasa Sebagai Sarana Mengamati Lingkungan Sekitar
Bahasa sebagai alat untuk mengamati masalah tersebut harus diupayakan kepastian konsep, kepastian makna, dan kepastian proses berfikir sehingga dapat mengekspresikan hasil pengamatan tersebut secara pasti. Misalnya apa yang melatar belakangi pengamatan, bagaimana pemecahan masalahnya, mengidentifikasi objek yang diamati, menjelaskan bagaimana cara (metode) mengamati, apa tujuan mengamati, bagaimana hasil pengamatan,. dan apa kesimpulannya.
8.     Bahasa Sebagai Sarana Berfikir Logis
Kemampuan berfikir logis memungkinkan seseorang dapat berfikir logis induktif, deduktif, sebab – akibat, atau kronologis sehingga dapat menyusun konsep atau pemikiran secara jelas, utuh dan konseptual. Melalui proses berfikir logis, seseorang dapat menentukan tindakan tepat yang harus dilakukan. Proses berfikir logis merupakan hal yang abstrak. Untuk itu, diperlukan bahasa yang efektif, sistematis, dengan ketepatan makna sehingga mampu melambangkan konsep yang abstrak tersebut menjadi konkret.

9.     Bahasa Membangun Kecerdasan
Kecerdasan berbahasa terkait dengan kemampuan menggunakan sistem dan fungsi bahasa dalam mengolah kata, kalimat, paragraf, wacana argumentasi, narasi, persuasi, deskripsi, analisis atau pemaparan, dan kemampuan mengunakan ragam bahasa secara tepat sehingga menghasilkan kreativitas yang baru dalam berbagai bentuk dan fungsi kebahasaan.
10.                       Bahasa Mengembangkan Kecerdasan Ganda
Selain kecerdasan berbahasa, seseorang dimungkinkan memiliki beberapa kecerdasan sekaligus. Kecerdasan – kecerdasan tersebut dapat berkembang secara bersamaan. Selain memiliki kecerdasan berbahasa, orang yang tekun dan mendalami bidang studinya secara serius dimungkinkan memiliki kecerdasan yang produktif. Misalnya, seorang ahli program yang mendalami bahasa, ia dapat membuat kamus elektronik, atau membuat mesin penerjemah yang lebih akurat dibandingkan yang sudah ada.
11.                       Bahasa Membangun Karakter
Kecerdasan berbahasa memungkinkan seseorang dapat mengembangkan karakternya lebih baik. Dengan kecerdasan bahasanya, seseorang dapat mengidentifikasi kemampuan diri dan potensi diri. Dalam bentuk sederhana misalnya : rasa lapar dan rasa cinta. Pada tingkat yang lebih kompleks , misalnya : membuat proposal yang menyatakan dirinya akan membuat suatu proyek, kemampuan untuk menulis suatu laporan.
12.                       Bahasa Mengembangkan Profesi
Proses pengembangan profesi diawali dengan pembelajaran dilanjutkan dengan pengembangan diri (kecerdasan) yang tidak diperoleh selama proses pembelajaran, tetapi bertumpu pada pengalaman barunya. Proses berlanjut menuju pendakian puncak karier / profesi. Puncak pendakian karier tidak akan tercapai tanpa komunikasi atau interaksi dengan mitra, pesaing dan sumber pegangan ilmunya. Untuk itu semua kaum profesional memerlukan ketajaman, kecermatan, dan keefektifan dalam berbahasa sehingga mampu menciptakan kreatifitas baru dalam profesinya.

13.                       Bahasa Sarana Menciptakan Kreatifitas Baru
Bahasa sebagai sarana berekspresi dan komunikasi berkembang menjadi suatu pemikiran yang logis dimungkinkan untuk mengembangkan segala potensinya. Perkembangan itu sejalan dengan potensi akademik yang dikembangkannya. Melalui pendidikan yang kemudian berkembang menjadi suatu bakat intelektual. Bakat alam dan bakat intelektual ini dapat berkembang spontan menghasilkan suatu kretifitas yang baru.


Senin, 14 Maret 2016

Profile Saya

Assalammu'alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh,


Welcome to my blog! Ahlan wa sahlan!


       Saya ingin memperkenalkan diri saya. Saya akan ceritakan hal-hal mengenai identitas saya. Oh iya saya pakai Bahasa Indonesia yang santai aja yaaa....jadi gak usah baku-baku banget, jadi nggak kaku keles hehehe...oke deh saya langsung perkenalan aja ya !

Nama                     : Muhammad Fauzi Islami
Panggilan              : Fauzi/Oji
Umur                     : 18 Tahun
 TTL                        : Bogor, 22 Mei 1997
Domisili                 : Bogor
Kegiatan                :   - Kuliah
                                    - Aktif di organisasi rohani Islam kampus
                                    - Nyoba-nyoba bisnis
                                    - Pengembangan potensi diri *etdah bahasanya :v
                                    - Baru-baru ini suka nulis

Hobi                       :      * Sepakbola
                                       * Bulutangkis
                                       * Ngoprek / otak-atik sesuatu ( khususnya yang berhubungan dengan komputer )

Motto Hidup         : “Jangan takut disebut orang gila karena usaha buat ngeraih mimpi ! Orang yang hujat,
                                 caci maki,dan bahkan ngehina cuma lupa kalau orang gila gak punya mimpi!”


      Begitulah identitas saya hehehe. Oh iya akhir-akhir ini saya suka menulis, makanya kenapa saya buat blog ini buat nuangin pikiran saya, tapi ada juga postingan yang saya repost dari sumber lain. Kenapa saya ingin menuangkan pikiran saya dalam sebuah tulisan ? Jawabannya karena saya seringkali mampunyai pemikiran atau ide-ide yang pada saat saya ingin mengingatnya kembali di suatu waktu, saya malah lupa. Argghhhhh....ngeselin kan ya? Nah makanya saya menulis selain untuk sarana berbagi dan bertukar pikiran, saya juga ingin menjadikan tulisan saya ini untuk self-reminder saya. Kalian tau gak kalau kita punya pemikiran tapi kita gak berani untuk mengemukakannya di depan umum secara langsung? itu rasanya kaya nyiksa otak, terus pemikiran kita akhirnya malah keburu diklaim sama oranglain, akhirnya? nyiksa batin :v

     Pasti temen-temen terbesit pertanyaan kaya gini ----> "terus kalau buat sarana self-reminder kenapa harus diposting di blog? kan bisa di buku pribadi." Nahhhh...sekali lagi saya jelaskan bahwa saya ingin menulis di blog karena saya ingin berbagi dan bertukar pikiran dengan teman-teman. Apa saya harus tunggu temen-temen bongkar tas saya terus baca buku pribadi saya yang isinya itu pemikiran saya terus temen-temen bilang "Eh lu tuh harusnya gini...gini...gini". Apa mungkin itu terjadi? Nah makanya saya ingin publish tulisan saya ini. Bukan karena saya ingin dipuji ini itu, tapi ini murni karena saya ingin bertukar pikiran dengan kalian teman-temankuuuuuuh ! Jujur saja, kalau saya disuruh ungkapin argumen saya didepan umum secara lisan, saya belum bisa. Saya tuh gak pede-an orangnya. Makanya saya publish tulisan saya ini.

      Hmm...saya rasa cukup perkenalannya hehehe...intinya saya hanya ingin berbagi dan bertukar pikiran. Jadi kita bisa saling mengingatkan dengan koreksi kita. Yaaaap semangaaaat!!!



Wassalammu'alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh.


Kamis, 07 Januari 2016

" Belajar dari Korek Api "

" Belajar dari Korek Api "






Assalammu'alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh,

         Selamat malam teman-teman! malam-malam gini enaknya sebelum tidur baca-baca artikel yang bisa memotivasi kita yaaap? Nah, saya waktu itu dapat artikel ini dari akun officialnya Teladan Rasulullah dari LINE. Memang sih hidup itu gak selalu indah kaya kata-kata motivator dan gak selalu mulus kaya aspal MotoGP, tapi gimanapun juga manusia butuh sama yang namanya masukkan yang positif agar hidupnya selalu mempunyai tujuan yang positif pula. Yuuuk lagsung aja kita baca artikelnya !

        " Satu pohon dapat membuat jutaan batang korek api tapi satu batang korek api juga dapat membakar jutaan pohon. Bila korek api diibaratkan pikiran negatif, maka satu pikiran negatif dapat membakar semua pikiran positif. Korek api mempunyai kepala tetapi tidak mempunyai otak. Oleh karena itu setiap kali ada gesekan kecil, sang korek api langsung terbakar. Kita punya kepala dan juga otak. Jadi kita tidak perlu terbakar amarah hanya karena gesekkan kecil. Ketika burung hidup, ia makan ulat. Ketika burung mati, ulat makan burung. Waktu akan terus berputar sepanjang zaman. Siklus kehidupan terus berlanjut. Jangan merendahkan siapapun dalam hidup, bukan karena siapa mereka tetapi siapa diri kita. Kita mungkin berkuasa tapi WAKTU lebih berkuasa daripada kita. Waktu kita sedang jaya, kita merasa banyak teman di sekeliling kita. Waktu kita SAKIT, kita baru tahu bahwa SEHAT itu sangat penting, jauh melebihi HARTA. Ketika kia TUA, kita baru tahu kalau masih banyak yang belum dikerjakan. Dan setelah di ambang ajal, kita baru tahu ternyata begitu banyak waktu yang terbuang sia-sia. Hidup tidaklah lama, sudah saatnya kita bersama-sama membuat HIDUP LEBIH BERHARGA. Saling menghargai,saling membantu,saling memberi dan juga saling mendukung. Jadilah sahabat perjalanan hidup yang tulus. Allah bersama kita dan In Shaa Allah selalu bersama kita. Aamiin " -Sumber : Official Account of Teladan Rasulullah in LINE-

        Belajar dari hal kecil kita bisa mengambil pelajaran yang banyak dan begitu berarti, jadi apakah kita masih meremehkan hal yang kecil ? Toh ternyata kita manusia juga kecil ! tapi kenapa manusia sering merasa besar? Manusia tercipta dari tanah, tapi kenapa sering kali bersifat langit ? Mari kita sama-sama introspeksi diri kita. Sekian self-reminder untuk kita semua pada malam ini, semoga bermanfaat dan membekas dalam diri kita. Aamiin.

Wassalammu'alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh.


“ Seperti Apa Diri Kita ? “

“ Seperti Apa Diri Kita ? “


Assalammu’alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh,
            
            Hallo teman-teman! Dalam kesempatan kali ini saya mau beropini sambil itung-itung evaluasi diri kita. Apa kita pernah berpikir siapa diri kita? Kenapa kita berada di dalam jasad ini? Kenapa kita berada di dunia ini? Nah itu ada 3 pertanyaan yang bisa ngebuat kita bisa berpikir akan Kekuasaan dan Kebesaran Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Apa kita tau kalau kita itu makhluk kecil yang hidup di dalam bumi yang faktanya berada di galaksi bima sakti atau bahasa asingnya itu disebut milky way ? Dan apa kita juga tau kalau galaxy kita ini berada di tengah-tengah 2 miliar galaxy lainnya atau bahkan lebih?
           
          Kita sudah bisa menyimpulkan bukan betapa Maha Besar Allah atas segala ciptaan-Nya seperti alam semesta ini beserta isinya? Dan Betapa kecilnya kita semua dihadapan Allah? Masih pantas kita sombong? Ya! Kita pantas sombong! Tapi kita harus bisa bikin lebih dari 2 milyar galaxy dan lebih dari 6 milyar bintang dari masing-masing galaxy dan juga memberikannya kehidupan seperti di Bumi. Terlalu berat? Yaudah deh, minimal ciptain planet semirip bumi! Masih terlalu berat? Yowes, cukup tiupkan ruh dan susun susunan organ tubuh pada semut? Nggak bisa juga? Yaudah kita jangan sombong deh! Lagian kita nggak pantes sombong ko.
           
         Nabi Yusuf A.S yang tersohor pada zamannya karena ketampanannya aja nggak sombong sama kegantengannya. Nabi Sulaiman A.S yang dikasih kerajaan dan kekayaan juga nggak sombong atas tahta dan hartanya. Nabi Muhammad SAW yang kekayaanya ditaksir melebihi bill gates aja nggak sombong. Lah kita manusia biasa mau sombong? Kesombongan yang paling dominan itu ada di lisan kita. Lisan mencerminkan kepribadian seseorang juga loh.
            
         Kalau kita ngaku orang yang cerdas, coba yuk pilih kata-kata yang berkelas. Kalau kita ngaku orang yang cerdik, ayolah pilih kata-kata yang baik. Kalau kita ngaku orang yang santun, atuh lah pilih kata-kata yang tertuntun. Terus kalau kita ngaku orang yang sopan, ayo atuh pilih kata-kata yang menyejukkan. Tapi kalau kita ini orang yang gak tau budi, monggo pilih kata-kata yang keji. Kalau kita ini orang yang gak takut dosa, sana aja pilih kata-kata yang hina. Kalau kita ini orang yang sombong, sok mangga pilih kata-kata bohong. Nah, kalau kita ini orang yang gak takut azab, sok lah pilih kata-kata yang gak beradab.
            
           Keselamatan kita berawal dari mulut loh, kita berdo’a untuk meminta keselamatan sama Allah, apa yang kita gunakan selain dengan hati? Ya, mulut! Kebahagiaan kita berawal dari perilaku dan kemuliaan kita berawal dari amal kita. Silakan pilih dan setiap pilihan akan menjadi tanggung jawab kita, apakah akan mengangkat kita ke Surga atau menjerumuskan kita ke neraka? Kita telah diberi pilihan, maka kita harus memutuskan, jika kita normal maka kita akan memilih surga, bagaimana caranya kesana? Mari kita introspeksi diri kita masing-masing agar surga rindu terhadap kita sembari hati kita bersahut terhadap surga “I MISS U TOO”. Semoga kita terjaga dari segala perbuatan yang menghadirkan murka Sang Pencipta dan kelak terselamatkan karena amalan kita.

           
          “ Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan satu kata yang diridhai Allah SWT yang ia tidak mengira yang akan mendapatkan demikian sehingga dicatat oleh Allah SWT keridhoan-Nya bagi orang tersebut sampai nati hari kiamat. Dan seorang lelaki mengucapkan satu kata yang dimurkai Allah SWT yang tidak dikiranya akan demikian, maka Allah SWT mencatatnya yang demikian sampai hari kiamat.” (HR. At-Tirmidzi)
           
       Sekian sedikit self-reminder untuk kita semua, semoga kita semakin menjadi hamba yang bersyukur yaaap:)

Wassalammu'alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh.